Sabtu, Juni 15, 2024
Google search engine

Tanpa Herman HN, Pilgub jadi Agak Laen!

Tak lengkap rasanya bila dalam kontestasi Pilgub di Lampung, sosok ini tidak kita bahas.

10 tahun menjadi Walikota dengan segudang prestasi dan beberapa kontroversi, kemudian dua kali maju sebagai calon gubernur, tentu membuat nama Herman HN menjadi pribadi yang menarik untuk terus kita kuliti.

Secara popularitas, siapa masyarakat Lampung yang tak mengenal beliau. Sosok pemimpin yang tegas dan selalu komitmen dengan apa yang sudah dijanjikan, bila sudah punya mau harus direalisasikan. Paling tidak itu beberapa karakter yang melekat pada dirinya.

Determinasi Herman HN dalam dua kali kontestasi pilgub Lampung, merupakan bukti bahwa ada satu target, visi yang ingin diwujudkannya di provinsi ini. Namun nampaknya sampai hari ini takdir belum berpihak kepadanya.

Pada pilgub 2024, meskipun belum terlihat masif memasang atribut serta melakukan agenda sosialisasi lainnya, tapi di beberapa poling serta survey yang beredar, nama Herman HN masih cukup mocer.

Beberapa pengamat masih optimis beliau akan tetap melaju dengan diusung koalisi dua partai, Nasdem dan PKS.
Bahkan sempat muncul beberapa meme, beredar di sosial media dan banyak grup WA, komposisi pasangan cagub dan cawagub, Herman HN-Mufti Salim.

Kita tahu, perolehan kursi Nasdem dan PKS di pemilu terakhir jika digabungkan cukup untuk mengusung pasangan calon. Bila koalisi ini terjadi dan fix mendaftarkan Herman HN-Mufti Salim pada akhir Agustus mendatang, tentu perhelatan pilgub akan semakin kompetitif.

Kedua tokoh ini merupakan ketua partai tingkat Provinsi yang sama-sama memiliki keunggulan.

Dari sisi personal, Herman HN dikenal sebagai sosok birokrat dengan segudang pengalaman, ditambah lagi pernah 10 tahun menjadi orang nomor satu di ibukota provinsi, tentu ini menjadi kelebihan yang tidak bisa dianggap enteng.

Mufti Salim, adalah sosok Ustadz yang punya latar belakang NU yang cukup kuat.
Pernah beberapa periode menjadi anggota DPRD Kabupaten dan Provinsi, kemudian hampir 10 tahun menjadi ketua DPW PKS. Partai dengan tingkat kesolidan kader dan pengurus diatas rata-rata.

Dari sisi daya dukung jaringan, sumber daya, baik di tingkat lokal maupun nasional, tentu Nasdem dan PKS sangat layak diperhitungkan.

Nasdem adalah Surya Paloh, pun sebaliknya. Tak diragukan lagi, beliau merupakan konglomerat di Republik ini. Salah satu bisnis raksasa yang dimilikinya adalah Media Group.

Mengutip data yang dirilis Globe Asia pada 2018, kekayaan Surya Paloh tembus Rp8,74 triliun. Dan tentu saja, dari 2018 hingga 2024, harta kekayaannya diprediksi bertambah. Pantas, bila dirinya masuk pada jajaran politikus terkaya di Indonesia.

Kalau untuk menang pilgub di Lampung, menurut beberapa pengamat butuh modal minimal 500 Miliyar, nampaknya cukup mengedipkan satu mata, Surya Paloh bisa meng-handle nya.

Selanjutnya PKS. Secara organisasi, partai ini punya sistem kerja komando yang terpusat. Jarang sekali ditemukan kader dan pengurus PKS membangkang keputusan politik yang ditetapkan oleh pimpinannya.
Dilapangan banyak kita temukan, pada setiap perhelatan politik, baik pileg maupun pilkada, puluhan hingga ratusan ribu kader PKS selalu siap untuk bergotong royong, menyumbangkan tenaga bahkan dana guna memenangkan calon yang diusungnya.

Jadi jika di beberapa kesempatan, Herman HN selalu berucap, jangan maju pilkada kalau tak punya uang. Saya pikir itu dengan sendirinya terbantahkan, bila melihat daya dukung yang dimiliki oleh Herman dan Mufti yang kita jabarkan tadi.

Penulis: Imron Rosadi

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular