Sabtu, Juni 15, 2024
Google search engine

Menang Aja Dulu, Baru Kita Perbaiki!

Satu kalimat penggugah, propaganda dalam setiap kompetisi politik amatlah penting dimiliki oleh setiap kandidat, bahkan oleh sebuah partai politik.

Karena politik identik dengan kekuasaan, dan secara faktual, kekuasaan hanya bisa didapatkan saat kemenangan dicapai, maka segala cara dan strategi akan digunakan untuk menggapai itu semua.

Dalam konteks menjaga semangat kader, relawan, dan tim pemenangan, biasanya akan dibuat satu jargon, kalimat motivasi yang diharapkan mampu menjadi panduan untuk menyamakan semangat serta motif pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Nah, saya jadi ingat satu kalimat yang banyak dipakai oleh banyak pihak, khususnya para pimpinan partai politik dan tim sukses kandidat: “Menang aja dulu, baru kita perbaiki!”

Mulia sekali sepertinya. Sehingga menarik untuk kita tafsirkan makna yang terkandung di dalamnya.

Bila kita tarik ke belakang, semua partai politik, khususnya para kandidat, tentu memiliki motif yang menjadi acuan saat terlibat aktif dalam sebuah kontestasi politik. Dan biasanya motif mereka erat kaitannya dengan kalimat “kita akan ikut memperbaiki situasi dan kondisi yang ada.”

Celakanya, niat baik ini selalu terbentur dengan realitas lapangan yang menguji daya tahan nalar serta sumber daya lainnya.

Bagaimana tidak, satu niat mulia, dibingkai dengan visi memperbaiki keadaan, pada akhirnya akan bertarung dengan situasi lapangan yang memaksa kita membenarkan sesuatu yang biasa dianggap salah. Kemudian, atas nama relevansi dan realitas, yang salah tadi berubah menjadi kebenaran sesaat.

“Menang aja dulu” bisa diartikan sebagai menggunakan segala cara yang ada; pokoknya harus menang. Dan ini biasanya akan menabrak norma yang selama ini diyakini.

Karena setelah menang, akan ada kerja perbaikan. Itulah yang dijadikan semacam penebus kesalahan atau bahasa halusnya kekhilafan dari seluruh cara dan proses yang dilakukan untuk menuju kemenangan.

Namun, semuanya tentu kembali kepada pemahaman serta keyakinan yang dianut.

Bagi yang percaya bahwa semua peristiwa dan proses yang dijalani suatu saat nanti akan bertemu dengan mekanisme pertanggungjawaban, lanjutkanlah.

Untuk pihak yang punya keyakinan bahwa ini adalah satu proses ikhtiar dari individu maupun kelompok untuk mencapai titik keseimbangan, ya monggo saja.

Prinsipnya, tetap berkawan, jaga silaturahmi, serta saling menghargai dan mendoakan.

Penulis: Imron Rosadi

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular